Selasa, 17 November 2020

Analisa Persaingan Usaha

Setiap usaha akan menghadapi persaingan, oleh sebab itu sangatlah penting untuk melakukan analisa persaingan usaha dalam rangka membantu Pelaku Usaha mengerti akan posisinya di pasar. Salah satu metode analisa persaingan usaha adalah Porter’s Five Forces atau Lima Kekuatan Porter. Metode analisa ini merupakan kerangka kerja analisa yang umum dilakukan dalam pengembangan usaha (business development) di industry. Metode ini ditemukan oleh Michael Porter dari Harvard Business School tahun 1979, dan sering dipakai dengan kombinasi analisa SWOT pada proses pengembangan usaha.

Dalam metode Porter Five Force ini, terdapat 5 aspek kekuatan yang sangat mempengaruhi persaingan usaha. Aspek-aspek tersebut adalah:

  1. Persaingan Usaha antar Pemain Usaha yang telah ada (Rivalry among Existing Competitors). Factor kekuatan ini adalah yang paling besar, karena usaha kita akan masuk diantara para pemain usaha yang telah ada sebelumnya, sehingga semua daya upaya dan inovasi dibutuhkan untuk memenangkan persaingan di sini.
  2. Halangan untuk memasuki sebuah bisnis (Entry Barrier for new entrant). Faktor ini juga memegang peranan besar, semakin mudah persyaratan untuk memasuki usaha ini maka akan semakin banyak pemain di lini usaha ini. Sebagai contoh pengusaha di UMKM makanan kecil akan relative lebih ramai dibandingkan pengusaha restoran mewah. Hal ini karena memulai usaha UMKM makanan jauh lebih mudah atau halangan untuk memasuki bisnis tersebut lebih mudah, jika dibandingkan dengan membuka usaha restoran mewah yang memerlukan modal besar, tenaga terampil dan bersertifikat, perijinan yang rumit, dan banyak persyaratan lainnya
  3. Adanya produk pengganti dari produk barang atau jasa yang kita usahakan (Product Substitutions). Faktor produk pengganti juga merupakan hal yang sangat penting, sebagai contoh persaingan taxi sangat ramai antar merek-merek yang ada di pasar Jakarta. Namun di tengah sibuknya persaingan bisnis antar Perusahaan Taxi, ternyata mereka tidak menyadari adanya produk ojek online yang dapat menyediakan biaya yang relative lebih murah dengan kecepatan layanan yang baik dalam mengatasi kemacetan. Produk layanan ojek digital ini adalah produk pengganti dari merek-merek taxi yang ada. Terlebih dalam teknologi digital yang semakin dominan saat ini, maka produk pengganti semakin banyak untuk suatu produk dan produk pengganti ini bukan merupakan pesaing tradisional sebelumnya. Hal-hal seperti ini kerap disebut sebagai disruption atau gangguan, dimana gangguan ini menjadikan ancaman terhadap keberlangsungan bisnis terhadap pemain-pemain lama, ancaman yang datang dari sisi yang tidak diduga sebelumnya.
  4. Kekuatan dari pembeli (Customer bargaining power). Kekuatan pembeli juga sangat mempengaruhi kompetisi di pasar, terutama kekuatan tawar dari pembeli terhadap harga yang ditawarkan. Pelanggan cenderung untuk meminta penurunan harga sehingga hal ini akan mempengaruhi pendapatan Perusahaan dan menjadikan Perusahaan untuk selalu berfikir innovative bagaimana memelihara kesetiaan pelanggannya.  
  5. Kekuatan dari Pemasok (supplier bargaining power). Pemasok atau supplier juga mempunyai posisi tawar yang cukup kuat terhadap setiap usaha, jika pemasok yang mendukung usaha tidaklah maka hal ini berpotensi menyulitkan sebuah Perusahaan untuk bersaing. Oleh sebab itu biasanya sebuah Perusahaan akan mempunyai lebih dari satu pemasok untuk menjamin kelangsungan usahanya. SEperti contoh sebuah bengkel akan mempunyai beberapa pemasok spare part untuk menjaga ketersediaan spare part di bengkel tersebut jika salah satu pemasok kehabisan stock produk.

Penulis:
Achmad Zakky Ridwan
Dosen Teknik Mesin
Universitas Pamulang 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membuat Rencana Bisnis Sederhana

Rencana usaha sangatlah penting bagi kita dalam memulai usaha dan juga mengembangkan usaha pada tahap selanjutnya. Sebagaimana telah dijelas...